Sangkuriang | Dongeng Asal Mula Gunung Tangkuban Perahu

Sangkuriang | Dongeng Asal Mula Gunung Tangkuban Perahu. Melihat gunung tangkuban perahu terutama bila dari kejauhan tampak seperti perahu yang terbalik atau telungkup. Dalam bahasa sunda telungkup berarti tangkub. Dibalik itu ternyata ada cerita rakyat atau dongeng sunda yang menampilkan tokoh Sangkuriang. Saat ini Gunung Tangkuban Perahu telah menjadi tujuan wisata utama di Jawa Barat dan Bandung khususnya. Ribuan wisatawan selalu datang terutama saat akhir pekan. Ayo ikuti kisahnya yang menarik dan penuh makna.
Sangkuriang | Donngeng Asal Mula Gunung Tangkuban Perahu

 

Dahulu kala di daerah parahyangan yang indah dan subur. Ada kerajaan besar yang diperintah oleh raja yang arif dan bijaksana bernama Pragbu Sungging Perbangkara. Akan tetapi sang prabu tidak mau menikah sehinga tidak mempunyai keturunan. Pada suatu hari raja ingin berburu. Dengan diiringi para pengawalnya yang merupakan orang-orang pilihan dan mahir berburu berangkatlah rombongan baginda raja menuju hutan.
Di tengah perburuan raja melihat seekor kijang yang berlari cepat. Segera raja mengejar kijang sehingga berpisah dengan pengawalnya. Hari hampir gelap namun kijang tersebut tidak dapat ditemukan oleh sang raja. Akhirnya ia mulai putus asa. Karena sangat lelah dan terdesak ingin buang air kecil, raja lalu turun dari kudanya dan membuang air di antara semak belukar. Air seni nya tertampung dalam sebuah tempurung.
Tidak lama berselang lewat seekor babi yang merupakan jelmaan dewi khayangan. Ketika melihat air dalam temperung ia meminumnya karena saking hausnya. Selang beberapa babi putih tersebut merasakan perubahan aneh di perutnya yang semakin membuncit. Ternyata ia mengandung. Setelah genap usia kandungannya lahir seorang bayi perempuan lalu diletakkan di atas rerumputan.
Kebetulan pada waktu itu sang raja kembali berburu dan mendengar suara tangisan bayi. Setelah ditelusuri dari mana asal tangis tersebut ditemukan seorang bayi mungil yang merupakan anaknya sendiri. Bayi tersebut diboyong ke istana kerajaan dan diberi nama Nyi Dayang Sumbi.  Setelah dewasa bayi tersebut menjadi seorang remaja putri yang cantik jelita.
Kecantikan Dayang Sumbi menjadikan para raja dan pangeran dari negeri seberanng datang untuk melamar. Namun dari puluhan pelamar tidak ada satu pun yang diterima yang menimbulkan kemarahan ayahnya yaitu prabu sungging perbangkara.
“, Kau menyalahi kodrat, seorang perempuan harus meninkah, melahirkan dan membesarkan anaknya,” bentak sang raja
”,Bagaimana dengan ayah sendiri? Bukankah ayah sendiri tidak menikah, ayahanda tidak beristri. Apakah ini tidak menyalahi kodrat juga. padahal seorang raja harus memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta kerajaannnya.” Sanggah dayang sumbi
”,Dayang sumbi, berani kau terhadap ayahmu” kata sang raja
”,Mohon ampun ayahanda, hamba sudah tahu asal-usul hamba yang sebenarnya. Bahwa hamba hanyalah bayi yang ayahanda temukan di tengah hutan. Hamba merasa tidak ada hak untuk melanjutkan tahta kerajaan ini. Oleh karena itu hamba memutuskan untuk menjadi pertapa.” Dayang Sumbi menjelaskan
Raja tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk menikahkan Dayang Sumbi. Dengan hati luluh akhirnya ia menyetujui permintaan anaknya yang ingin menyendiri di tempat suci menjadi seorang pertapa. Pada hari itu juga raja memerintahkan para prajurit untuk mengantarkan anaknya le tepi hutan yang sunyi. Sang raja memberikan seekor anjing setia dan terlatih bernama di tumang untuk menjaga dan menemani dayang sumbi di pertapaan itu. Tak seorang pun tahu bahwa si tumang adalah jelmaan dewa.
Dayang Sumbi mengisi waktu sehari-harinya dengan menenun di dalam pondoknya. Suatu hari ketika sedang menenun tiba-tiba kain tenunnya jatuh ke kolong pondok. Ia merasa enggan untuk mengambilnya dan secara tidak sadar ia bergumam.
 “,Jika ada seseorang yang yang mau mengambilkan benangku bila ia perempuan akan kuangkat sebagai saudara. Jika laki-laki akan kujadikan suami.
Tiba-tiba muncul si tumang ke hadapan Dayang Sumbi dengan benang di mulutnya.
“. Hah? Kau tumang ..! buka n kau yang kumaksudkan!” pekik dyang sumbi
Dayang sumbi benar-benar lemas dan kecwa. Ucapannya tadi hanya spontan belaka. Siapa thu si tumang ternyata mendengarnya . ia pun menyesal. Dan sekonyong-konyong terdengar suara dari atas pondok
“. Seorang pertapa tidak boleh menjilat ludahnya sendiri, apa yang menjadi janjimu harus kau tepati, walaupun si tumang seekor anjing akan tetapi ia jelmaan dewa. Kau harus menikah dengannya.”
Mendengar suara itu Dayang Sumbi makin gemetar, ketakutan dan sedih. Karena kelelahan ia pun tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi berbungan suami istri. Secara ajaib ini menyebabkan dirinya hamil. Beberapa bulan kemudian lahir seorang putra yang diberi nama Sangkuriang. Setelah beranjak dewasa  Sangkuriang gemar berburu ke hutan dan selalu ditemani oleh si tumang.
Pada suatu hari Dayang Sumbi ingin dibawakan hati rusa. Namun hari itu hewan buruan yang dicari tidak didapatkan. Ketika elintas seekor babi putih dipanahlah babi tersebut namun meleset. Lalu ia menyuruh si tumang untuk mengejar babi putih tersebut akan tetapi si tumang diam saja karena ia tahu bahwa babi tersebut adalah ibu nya dayang sumbi yang juga mertuanya.
Karena jengkel dengan kelakuan si tumang, Sangkuriang menombak anjing jelmaan ayahnya tersebut sehingga tewas. Hati si tumang dibawa pulang oleh Sangkuriang untuk diberikan kepada ibunya. Di rumah hati tersebut dimasak lalu dinikmati bersama. Namun ketika Dayang Sumbi ingin memberikan sisa makanan ke si Tumang, ia tidak menemukannya.
.”Kemana si tumang ?,” tanya dayang sumbi
”.Ibu, anjing tersebut membantah perintahku sehingga dia kutombak dan kuambil hatinya,” jelas sangkuriang
“.Apa kau bunuh si tumang ?,” teriak dayang Sumbi
.”Benar bu karena dia membangkang,” bela Sangkuriang
.”Anak durhakaaa!!,” Dayang sumbi marah besar sembari mengambil sendok nasi ke arah kepala sangkuriang
Sangkuriang menjerit kesakitan dan berlari meninggalkan pondok mereka. Hatinya benar-benar kecewa dengan ibunya. Hanya karena seekor anjing dia harus dimarahi dan dipukul sehingga menyebabkan kepalanya terluka. Ia bertekad tidak akan kembali ke pondok yang selama ini ditinggali bersama ibunya. Dalam perjalanannya Sangkuriang banyak menuntut ilmu kepada para  guru yang ahli sehingga ketika bertemu seorang raja jin, ia mampu mengalahkannya dan sang raja jin bersedia diperintahkan apa saja oleh sangkuriang.
Suatu ketika Sangkuriang bertemu seorang gadis yang memikat hatinya. Keduanya pun berencana untuk menikah. Namun ternyata gadis tersebut adalah Dayang Sumbi yang menyadari bahwa calon suaminya adalah anaknya Sangkuriang karena melihat luka di kepalanya. Dayang Sumbi pun membatalkan rencana perkawinannya. Sangkuriang menolaknya dan bersikeras untuk tetap menikahinya.
Akhirnya Dayang Sumbi menyetujui untuk menikah dengan memberikan syarat kepada Sangkuriang untuk dibuatkan sebuah telaga di puncak gunung berikut sebuah perahu besar. Sangkuriang menyanggupinya karena ia mendapat bantuan dari pasukan jin. Dayang Sumbi yang tidak mengira hal ini segera berdoa kepada para dewa untuk menolongnya. Sang dewa mengabulkan permohonannya. Sang mnetari seketika terbit di ufuk timur, ayam berkokok dan para penduduk bangun dan segera menumbuk padi.
Melihat matahari telah terbit, para pasukan jin meninggalkan pekerjaannya yang hampir selesai. Sangkuriang sangat mearah mengetahui hal ini. Ia menghampiri dayang sumbi yang ketakutan
“,Kau curang!, kau pasti menggunakan kekuatan para dewa untuk menggagalkan pekerjaanku.”
Sangkuriang yang telah dirasuki oleh rasa marah menendang perahu yang dibuatnya hingga telungkup ke bumi dan perahu itu berubah menjadi gunung. Gunung ini lah yang sekarang dikenal dengan nama gunung Tangkuban Perahu.