Wisata Sejarah Terowongan Batubara Lubang Suro Sawahlunto

Wisata Sejarah Terowongan Batubara  Lubang Suro Sawahlunto. Sejarah merambat pada seng tua, rumah-rumah kayu, tiang tinggi dengan sice berpagar tembok, juga terowongan Mbah Suro. Ini bekas galian tambang batubara yang membelah kota Sawahlunto yang berada di lereng gunung Singalang Sumatera Barat Indonesia. Terowongan ini ditemukan pertama kali oleh geolog Belanda WH Van Greve pada tahun 1898 setelah ia menemukan kandungan batu bara di dalamnya.
Wisata Sejarah Terowongan Batubara Lubang Suro Sawahlunto

Terowongan batubara Sawahlunto ini memiliki panjang 700 meter. Namun pada tahun 1932 harus ditutup karena air tanah merembes tidak terkendali menggenangi jalur pengerukan. Oleh karena itu sebenarnya di dalam bumi Sawahlunto masih terdapat banyak kandungan batubara yang sangat banyak. Pada tahun 2007 oleh walikota Amran Nur goa ini digali ulang lalu dibuka untuk umum pada tanggal 23 April 2008.

Membutuhkan waktu 8 bulan untuk menyedot air di dalam goa dan itu pun tidak seluruhnya kering. Pemerintah kota Sawahlunto hanya mampu menggali sepanjang 186 meter saja dengan kedalaman 15 meter. Lalu ditambah dengan saluran udara agar pengunjung aman dan nyaman. Sejarah goa ini terekam di museum tambang yang dibangun di bekas reruntuhan rumah Mbah Suro di depan gua. Terdapat koleksi peralatan tambang seperti sekop, cangkul dan kapak. Selain itu terpajang foto-foto para pekerja yang merupakan tawanan penjajah Belanda. Di ujung terowongan berdiri goedang ransoem dapur umum sebagai tempat memasak.
Halaman museum tambang Sawahlunto kini disulap menjadi ruang publik sebagai wadah bagi masyarakat Sawahlunto untuk mengahabiskan waktu bersantai, olahraga atau sekedar berkumpul bersama keluarga dan sahabat sembari meretas sejarah kota mereka yang didirikan pada tahun 1888.

 

Demikian artikel Wisata Sejarah Terowongan Batubara  Lubang Suro Sawahlunto.  Semoga bermanfaat dan terima kasih