Keindahan Bukittinggi di Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan

Keindahan Bukittinggi di Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan. Masyarakat sekitar lebih mengenal dengan kebun binatang Bukittinggi. Untuk menuju ke lokasi cukup mudah dan berada di pusat kota. Bila anda berada di area Jam Gadang lebih baik jalan kaki saja masuk ke Pasar Atas menuju ke arah utara setelah itu akan menjumpai Masjid Raya Bukittinggi. Nah dari sini sudah terlihat gerbang objek wisata ini.
Saya memilih rute ini selain cari bekal buat nanti di kebun binatang juga survei yang akan dibeli untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Di Pasar Atas banyak menyediakannya mulai dari berbagai jenis pakaian, cindera mata hingga makanan yang tentu saja khas Bukittinggi dengan harga yang terjangkau.
Keindahan Bukittinggi di Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan

Cikal bakal tempat wisata ini merupakan sebuah taman bunga dirancang oleh orang Belanda bernama Controleur Strom Van Govent sehingga dinamakan sesuai perancangnya yaitu Storm Park pada tahun 1900. Barulah pada tanggal 3 Juli 1929 dikembangkan oleh seorang dokter hewan drh J. Heck mulai memiliki koleksi binatang, namanya pun berganti menjadi dieren park lengkapnya Dieren Tuin Fort De Kocksche alias Kebun Binatang Bukit Tinggi. Lalu setelah kemerdekaan Indonesia menjadi Taman Puti Bungsu.

Dan akhirnya sampai sekarang menjadi Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan Bukittinggi melalui Perda no 2 tahun 1995. Tiket yang berlaku adalah 5000 rupiah untuk hari biasa dan 8000 rupiah pada akhir pekan atau libur, jadi cukup murah kan. Bila membandingkan dengan Taman Margasatwa Ragunan koleksi satwa dan luas areanya di sini masih kalah namun jangan berkecil hati dulu karena ada beberapa faktor yang menjadi keunggulan dan tidak kita temui di Ragunan. Pertama, Museum Rumah Gadang Baanjuang. Kedua, Jembatan Limpapeh. Dan yang ketiga, Benteng Fort de Kock.

Yang cukup menarik adalah Kebun binatang ini tidak berada pada tanah yang datar seluruhnya namun memiliki landscape perbukitan karena berada di bukit Cubadak Bungkuak. Oleh karena itu siapkan tenaga ekstra untuk mengelilingi seluruh areanya. Namun jalannya yang tertata rapi terdiri dari susunan coneblock membuat nyaman untuk berjalan kaki. Hal positif yang saya temui adalah pedagang di sediakan stand khusus sehingga tidak ada pedagang liar yang seenaknya berkeliaran di taman.
Keindahan Bukittinggi di Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan
Oleh karena itu persiapkan makanan dan minuman sebelum masuk lokasi karena tidak banyak pilihan kalau membeli di dalam. Para fotographer pun tidak agresif bahkan lebih terkesan menunggu sangat berbeda dengan ‘rekan’ seprofesi mereka yang ada di Ragunan. Sungguh cerminan masyarakat Minangkabau yang ramah tamah.
Setelah puas melihat tingkah pola para satwa, kami melanjutkan perjalanan menuju Benteng Fort de Kock, sebuah peninggalan sejarah pemerintah hindia Belanda yang dibangun tahun 1825 sebagai pertahanan menghadapi para pejuang Indonesia yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dalam perang Paderi. Untuk menuju ke sana kita harus melewati Jembatan Limpapeh, yang dalam bahasa Minang artinya tiang tengah, mungkin ini arti dan maknanya karena tiang tengahnya berbentuk terowongan adalah Jl. Ahmad Yani.
Dibawah naungan pohon-pohon pinus, sejuknya hawa dan pemandangan Bukittinggi yang mempesona, kami menikmati bekal yang telah disiapkan, sebuah pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan.
Demikian artikel tentang Keindahan Bukittinggi di Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan, mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi rekan-rekan mengunjungi kota Bukittinggi.