Museum Rumah Gadang Baanjuang Bukittinggi | Wisata Adat Ranah Minang

Kali ini saya ingin mengajak jalan-jalan ke Museum Rumah Gadang Baanjuang di Bukittinggi. Letaknya berada di komplek Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Awalnya saya tidak sengaja berkunjung ke museum ini karena tujuan semula adalah kebun binatang lalu melihat sebuah bangunan yang cukup mencolok berbentuk rumah gadang lengkap dengan atap gonjongnya yang terbuat dari ijuk lalu dinding dan lantainya berbahan kayu. Saya pun akhirnya memutuskan untuk mampir.
 Museum Rumah Gadang Baanjuang Bukittinggi | Wisata Adat Ranah Minang
Pelataran depannya cukup banyak berdiri patung-patung berukuran besar memakai pakaian adat khas Minangkabau, ada juga replika sekelompok gadis yang sedang menumbuk padi. Di kanan dan kiri bangunan terdapat dua buah rangkiang atau kapuak yaitu lumbung padi. Jenisnya yaitu Sibayau bayau dan Sitinjau lauik. Rangkiang jenis sibayau bayau atau kapuak salang tenggang berfungsi membantu orang-orang yang tidak mampu sedangkan rangkiang jenis Sitinjau lauik atau kapuak adat jo pusako digunakan dalam hal yang berkaitan dengan acara adat
Apa saja yang kita temui di dalam museum? Museum ini memiliki koleksi yang termasuk dalam kelompok etnografika yang artinya gambaran suatu bangsa dalam hal ini bangsa Minangkabau tentunya yang meliputi adat istiadat seperti tempat pelaminan, miniatur rumah gadang, surau, lapau dan lainnya Susunan masyarakat adat ditunjukkan dengan bagan, bahasa pengantar , peralatan apa saja yang digunakan baik untuk kegiatan sehari-hari maupun senjata perang tradisional, aktivitas ekonominya serta fisik masyarakatnya.
Lalu ada lagi koleksi numismatika yang berarti mata uang, tanda jasa atau medali. Ditampilkan juga koleksi biologi berupa binatang aneh atau tidak normal fisiknya yang di awetkan lalu dipajang dalam lemari kaca. Diantaranya adalah kerbau dan kambing yang memiliki dua buah kepala, kakinya berjumlah delapan. Saya kurang mengerti mengapa dijadikan koleksi museum ini padahal tidak ada hubungannya dengan tema museum. Mungkin hanya sekedar daya tarik untuk pengunjung agar penasaran aja kali ya.
Pendiri museum ini ternyata orang Belanda yang bernama Mondellar Countrolleur pada 1 Juli 1935. Sebelumnya bernama Museum Bundo kanduang. Walaupun masih dalam area kebun binatang namun untuk masuk ke museum kita dikenakan lagi tiket masuk. Jangan khawatir, tidak mahal koq hanya 1000 perak aja. Sebagai gambaran, suasananya mirip bagi anda yang pernah mengunjungi anjungan Sumatera barat di Taman Mini Indonesia Indah (lebih lengkap di Taman Mini Indonesia Indah )
Tip untuk mengunjungi Museum Rumah Gadang Baanjuang:
  1. Siapkan alat tulis berupa pulpen dan buku, cukup banyak tulisan untuk menjelaskan koleksi
  2. Kamera yang mampu menghasilkan gambar bagus di tempat yang pencahayaannya minim karena ketika saya mengambil foto dengan handphone hasilnya kurang memuaskan sehingga sangat sayang bila kita tidak mengabadikannya
  3. Bawa tas atau kantong plastik. Untuk masuk kita harus melepas alas kaki agar lebih tenang sepatu atau sandal dapat dimasukkan ke kantong plastik.
Demikianlah tulisan saya mengenai Museum Rumah Gadang Baanjuang semoga bermanfaat bagi rekan-rekan.