Wisata Fenomena Batu Hidup di Pulau Bacan, Halmahera Selatan

Wisata Fenomena Batu Hidup di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Saat ini batu Bacan sedang menjadi primadona di kalangan pecinta batu cincin dan permata. Pesonanya membuat orang tertarik untuk memakai di jarinya,  dijadikan koleksi pribadi atau untuk dijual kembali karena harganya yang menggiurkan.
Batu Bacan memiliki karakter  yang berbeda dengan batu jenis lainnya. Ketika pertama kali kita melihatnya warnanya hitam dan permukaan tampak kasar. Namun seiring waktu ia akan bermetamorfosis berubah menjadi warna hijau lalu permukaannyapun menjadi halus. Oleh karena itu para penggila batu cincin mengatakan batu Bacan adalah batu hidup. Akan lebih hidup lagi bila digunakan terus karena pengaruh panas tubuh penggunanya.
Wisata Fenomena Batu Hidup di Pulau Bacan, Halmahera Selatan
 Bacan diambil dari nama sebuah pulau yang berada di Halmahera selatan, Maluku Utara. Di pulau ini terdapat kota Labuha yang merupakan pusat pemerintahan sehingga pada umumnya kegiatan masyarakat terkonsentrasi di sini, tidak mengherankan pengolahan batu permata pun berlangsung di daerah ini. Oleh karena itu walaupun batu ini berasal dari pulai Kasiruta yang letaknya sebelah barat pulau Bacan, masyarakat luar sudah terlanjur lebih mengenal batu Bacan.

Ditinjau dari segi lokasi penambangannya ada 3 jenis  batu Bacan yaitu Doko, Palamea dan Akelamo yang merupakan desa yang ada di pulau Kasiruta yang masuk administrasi Bacan Barat. Ketiganya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Bacan Palamea memiliki warna hijau muda cerah. Bacan Doko variasi warnanya lebih banyak seperti hijau cincau, biru laut, kembang, teh dan hati hiu. Sedangkan Bacan Akelamo dikenal juga dengan Bisori.

Harga sebuah batu Bacan tergantung dari kualitas, motif dan ukurannya.  Untuk anda yang awam cukup menyinari batu tersebut, bila tembus oleh cahaya maka kualitasnya tergolong bagus. Namun hati-hati dalam memilih karena tiruannya pun banyak yang beredar di pasaran.
Dengan meningkatnya permintaan pasar yang tinggi, pencarian batu pun semakin sulit dilakukan. Terutama yang berkualitas tinggi. Dapat ditebak akibatnya harga yang ada di pasaran makin melambung. Namun di tengah gencarnya kebutuhan akan batu Bacan ini, mudah-mudahan para penambang tetap menjaga keseimbangan alam dengan tidak sembarangan mengeruk hasil bumi ini yang akan merusak lingkungan sekitar.

Demikian artikel saya tentang Wisata Fenomena Batu Hidup di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan. Terima kasih atas kunjungannya.