Mengunjungi Rumah Mbah Marijan Di Lereng Merapi Yogyakarta

Mengunjungi Rumah Mbah Marijan Di Lereng Merapi Yogyakarta. Aku sudah bosan di rumah. Rasanya tidak afdol jika  menghabiskan masa liburanku dengan hanya  berada di bawah tempatku berlindung dari hujan dan panas. Dan sepertinya orang tuaku mengerti apa yang sedang kurasakan. Di malam harinya , ayah mengajak aku,ibu dan kedua kakakku untuk pergi ke kota Yogyakarta. Di situ, aku merasa ingin berlari ke luar rumah dan berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan kebahagiaanku. Dan tentu saja aku tidak benar-benar melakukannya. Setelah mendengar perkataan ayah, aku langsung mengemas barang-barang. Kemudian langsung buru-buru tidur karena kata ayah kita akan berangkat pagi-pagi sekali.
Dan benar saja keesokan harinya aku dibangunkan pukul setengah tiga pagi. Dalam keadaan mengantuk, aku langsung melakukan hal yang biasa aku lakukan begitu bangun tidur. Setelah aku dan semuanya siap, kita langsung berangkat menuju medan perang. Eh salah, ke Yogyakarta maksudnya.

Di perjalanan, aku melakukan hal-hal yang bisa “membunuh” rasa bosan. Seperti mendengarkan musik atau membaca buku. Setelah sekian lama di perjalanan. Aku bersama keluargaku sampai di kota Yogyakarta. Waktu itu sudah larut malam. Akhirnya kami mencari penginapan dan Alhamdulillah langsung dapat. Kemudian kami langsung check in dan memasuki kamar yang sudah kami sewa.

Keesokan harinya aku terbangun dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Buru-buru aku mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat shubuh. Setelah itu sarapan, mandi dan bersiap-siap untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Yogyakarta. Sebenarnya ada banyak tempat yang aku kunjungi di sini. Namun yang akan aku ceritakan ketika aku berada di Lereng Merapi.
Lereng Merapi, di situlah aku berada sekarang. Suasana yang cukup sejuk membuatku semakin bersemangat untuk menjelajahi tempat ini. Aku dan keluargaku langsung menyusuri jalan setapak yang mengarah kepada satu tempat yang sangat terkenal di sini, Rumah Mbah Marijan. Meski jalan yang akan kami tempuh agak jauh dan menanjak, itu semua tidak menghalangi kami untuk tetap menuju ke tempat itu. Setelah cukup lelah berjalan, kami sampai di tempat tujuan kami. Ya, tak lain dan tak bukan yaitu Rumah Mbah Marijan. Kulihat di sana, ada semacam reruntuhan rumah tua yang penuh debu. Serta di sekelilingnya ada sawah atau apa aku lupa. Karena kejadian ini terjadi 2 tahun yang lalu. Tapi yang jelas, selain melihat reruntuhan rumah tua, aku juga melihat tulang-belulang hewan milik Mbah Marijan. Yang menurutku itu adalah seekor sapi. Oh ya, menurut penjelasan tour guide Alm.Mbah Marijan memiliki nama asli Raden Ngabehi Surakso Hargo yang entah mengapa beliau dipanggil Mbah Marijan. Beliau merupakan juru kunci Gunung Merapi. Pada awalnya, beliau menjadi wakil juru kunci pada tahun 1970. Kemudian sejak 1982 beliau menjadi juru kunci Gunung Merapi.Setelah mendengar penjelasan tour guide,aku kembali menikmati udara sejuk di tempat tersebut sembari meminum bandrek yang kubeli di warung yang juga terdapat di tempat tersebut. Oh,indahnya.
Penulis :
Siswa kelas IX – 3
SMP AL AZHAR SYIFA BUDI CIBINONG
BOGOR – JAWA BARAT