Menikmati Liburan Mistik di Lawang Sewu Semarang Jawa Tengah

Menikmati Liburan Mistik di Lawang Sewu Semarang Jawa Tengah. Pada lebaran tahun 2016, kami sekeluarga mempunyai tradisi mudik yang kita lakukan hampir setiap Tahun menjelang hari Raya Idul Fitri. Untuk Lebaran kali ini kebetulan orang tua kami mendapatkan libur panjang dari tempat kerja, sehingga kita berangkat mudik jauh-jauh hari dari hari H ( hari lebarannya) sehingga dalam perjalanan kami tidak menemukan kemacetan seperti tahun2 sebelumnya. Singkat cerita Kami sampai di Temanggung yaitu Desa dimana Kakek dan Nenek kami tinggal. Suasana disana dingin karena berada di kaki Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.
Pada Lebaran Ke 3 kami berencana menjemput Budhe ( kakak dari papi aku ) di Bandara Ahmad yani Semarang, setelah menempuh Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi, pagi itu saya pun telah berada di jalanan kota Semarang.   Dalam perjalanan dari bandara Ahmad Yani kami pun melewati bangunan besar bergaya kolonial dan memiliki banyak jendela, anggun sekali. Ayah kami yang kebetulan Lahir di Semarang mengatakan bangunan itu adalah Lawang Sewu, salah satu ikon kota mereka.  Cerita mistis yang menyelimuti gedung seribu pintu ini pun langsung keluar dari bibir Ayah kami , malah ada yang menyampaikan kalau gedung ini tidak hanya dikenal dengan gedung seribu pintu, namun juga seribu hantu. 

Lawang Sewu, gedung seribu pintu adalah  bekas kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, jawatan kereta api Belanda yang beroperasi di Semarang.  Dirancang oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam pada tahun 1903, pembangunan gedung ini dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada 01 Juli 1907.   Gedung ini pun menjadi saksi bisu perjalanan perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya.  Bila dimasa penjajahan Belanda gedung ini difungsikan sebagai kantor pusat jawatan kereta api, maka ketika Jepang menduduki Republik ini di tahun 1940-an gedung ini diperuntukkan sebagai markas Kempetai, Polisi Militer Jepang yang terkenal sadis dan kejam,  serta Kidobutai, tentara kerajaan Jepang.  Gedung ini pun tercatat sebagai lokasi pertempuran hebat selama 5 hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), BKR, AMRI dan beberapa organisasi kepemudaan lainnya dengan Kempetai dan Kidobutai yang dimulai pada 15 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.   Setelah kemerdekaan gedung ini dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia, lalu Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan.  Saat ini Lawang Sewu sedang direnovasi dan direvitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT KAI.  Beberapa ruangan bahkan telah difungsikan sebagai ruang peraga museum kereta api.

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- untuk orang Dewasa dan Rp 5.000,- untuk Anak-anak,  plus Rp50.000,00 untuk tour guide,( karena suasana lebaran makanya tour guidenya jadi mahal yang biasanya hanya Rp. 30.000,-)  saya pun memulai berkeliling di gedung yang sarat sejarah ini.  Walaupun siang hari, namun saya pribadi merasakan suasana yang berbeda.  Menyeramkan.  Mungkin itulah kata – kata yang tepat mewakili apa yang saya rasakan siang itu.  Tidak terbayangkan keadaannya di malam hari.  Secara umum terdapat 4 gedung di kawasan Lawang Sewu ini, yang pertama adalah gedung A yang merupakan gedung yang dapat anda lihat dari jalan.  Menurut tour guide yang mendampingi kami, gedung ini masih tertutup untuk umum karena masih dilakukan renovasi.  Tampilan luarnya sudah cukup baik dan terawat.
Gedung kedua adalah Gedung B.  Gedung ini pun sebenarnya belum pulih benar dari renovasi dan revitalisasi yang dilakukan, namun sudah difungsikan dan terbuka untuk umum.  Entah kenapa, ketika melangkahkan kaki ke dalam gedung ini tiba-tiba saja bulu kuduk saya meremang dan nafas saya menjadi berat malah agak sedikit sesak. Seperti ada gelombang elektromagnetik dalam skala besar yang tidak kasat mata di depan saya.  Namun, mungkin itu hanya perasaan saya saja.  Lorong di depan gedung B ini sudah bersih dengan jendela – jendela tinggi dan besar menghiasinya.  Di dalamnya beberapa ruangan telah difungsikan sebagai ruang pamer untuk foto – foto jadul tentang sejarah perkereta apian bangsa ini.  Selain itu pula terdapat maket Lawang Sewu yang dapat anda lihat disini.  Iseng saya bertanya kepada pemandu kami, apakah memang pintu di Lawang Sewu ini berjumlah 1000 ?  Sang Pemandu pun menjawab dengan yakin kalau Pintunya berjumlah 982 daun pintu ( bukan jumlah pintunya lho tetapi jumlah daun pintunya) .  Saya berpikir angka 1000 atau sewu disini mungkin dimaksudkan untuk menyebutkan bahwa jumlah pintu di tempat ini buaaannyyaaakk sekali. Jadi, simpelnya dikatakan sewu saja.
Sang pemandu pun mengatakan kepada kami kalau di bawah gedung ini terdapat terowongan yang awalnya berfungsi untuk membuat ruangan yang berada di atasnya menjadi lebih sejuk yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara di kala pendudukan Jepang.  Saya kemudian ingat kalau terowongan atau ruangan bawah tanah itu pernah digunakan oleh salah satu reality show televisi swasta untuk lokasi uji nyali.  Setelah puas melihat-lihat di lantai 1, saya dan rombongan pun diajak untuk melihat ruangan yang berada di lantai 2.  Namun sebelum menaiki tangga menuju ke lantai 2, Sang Pemandu mengajak kami untuk melihat ruang atau celah sempit ke terowongan atau ruang bawah tanah yang sebelumnya diceritakan.  Celah sempit tersebut berada di bawah tangga dan tidak begitu mencolok keberadaannya.  Tiba-tiba saya merasakan terpaan gelombang yang tak kasat mata menghantam badan ini. Bau pengap yang khas pun serta merta sampai di hidung saya, bersamaan dengan terpaan gelombang tadi.
Setelah mengelilingi Beberapa Gedung diantaranya ada Museum Kereta Api dan sejarahnya, foto-foto pendiri Jalan Kereta Api yang tentunya adalah Gubernur Belanda pada jamannya, Jalur kereta api ini melintas sepanjang pulau Jawa yang saat itu membawa korban penduduk Indonesia yang tidak sedikit dengan adanya kerja paksa. Ada Video singkat tentang riwayat perjalanan perkereta-Apian di Indonesia.     
Karena waktu sudah cukup mepet karena harus sholat Jumat dan kemudian mau beli oleh oleh khas Semarang yaitu Tahu pong dan Lumpia basah yang kemudian dilanjut kami harus melakukan perjalan pulang ke Temanggung. Maka Kami sekeluarga harus menyudahi tour Lawang Sewu ini. Terima kasih
Jangan lewatkan untuk menginjungi aneka tempat wisata menarik lainnya di Jawa Tengah seperti Loji Gandrung yang merupakan kediaman resmi walikota Solo,

Penulis : PRIANANTA WIJANG PAKERTI
Siswa kelas IX – 3
SMP AL AZHAR SYIFA BUDI CIBINONG

BOGOR – JAWA BARAT