Tour Rahasia Di Kota Tua Jakarta

Tour Rahasia Di Kota Tua  JakartaLiburan sekolah kemarin, aku, Jessica dan Kayleen melakukan perjalanan ke Kota  Tua, Jakarta. Kami bertingkah seolah-olah kami bertiga ini adalah pelancong yang tersesat ke Jakarta. Dengan uang pas-pasan dan belum mandi, kami berangkat ke Kota Tua menaiki kereta api. Kami tidak berencana untuk ke Kota Tua saat itu, bahkan rencana awal kami hanya berlari pagi di Pemda Kabupaten Bogor, dan mencari peralatan tulis untuk sekolah, sekalian karena esoknya adalah hari pertama masuk sekolah.  Bahkan kami bertiga sebenarnya tidak mengetahui pasti dimana letak Kota Tua itu.
Malam sebelum berangkat, aku menginap dirumah Jessica – hanya berdua. Kami sama sekali tidak merencanakan tour ke Kota Tua ini. Kami malah sibuk membahas bagaimana hari pertama sekolah nanti, bagaimana kelas yang akan kami dapat dan menonton beberapa film.
Keesokan paginya, aku dan Jessica berencana untuk lari pagi. Kami merencanakan akan lari pagi pukul enam, tapi karena tidur terlalu malam, kami terlambat bangun dan malah terbangun jam Sembilan. Walaupun kesiangan, kami tetap berangkat. Awalnya kami membeli sarapan terlebih dahulu di deket rumah Jessica. Lalu kamu menyetop angkot dan naik. Di tengah perjalanan, niat untuk lari pagi kami luntur.
Kami langsung terpikir ‘Bagaimana kalau ke rumah Kayleen saja?’ yang pada saat itu posisi angkot sudah mendekati perumahan tempat Kayleen tinggal. Kami pun berhenti dan jalan ke rumah Kayleen yang jaraknya cukup dekat.
Kedatangan kami ternyata tidak diduga oleh Kayleen, karena memang sebelumnya kami tidak bilang terlebih dahulu padanya, bahkan ide nya saja baru muncul saat di jalan.
Kami dipersilahkan masuk oleh Kayleen sendiri, yang kebetulan saat itu hanya dirumah berdua dengan kakaknya. Di dalam kamar Kayleen, kami mengobrol dan meminta Kayleen untuk menemani kami membeli alat tulis. Tiba-tiba terpikir rencana yang sudah dari dulu kita rencanakan, ‘PERGI KE KOTA TUA’.

Akhirnya kami bertiga pun berangkat ke stasiun Citayam. Sebelum ke stasiun, kami bertiga mampir terlebih dahulu di rumahku. Hanya sekedar mengambil uang tambahan dan membawa sedikit perbekalan. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Citayam yang memang dekat dengan rumahku.

Kami lalu memasan tiket KRL, tapi bukannya ke kota tua, kami malah memasan tiket tujuan Bogor. Supaya jauh, pikir kami. Perjalan kereta ke bogor cukup menyenangkan. Di kereta kami mengobrol dan tertawa-tawa. Setelah sampai di stasiun Bogor, kami linglung seperti orang bingung. Kami benar-benar tidak punya tujuan. Akhirnya kami membeli tiket lagi tujuan Jakarta Kota.
Perjalanan menuju Jakarta Kota menempuh waktu yang cukup lama. Sekitar satu jam setengah kurang lebih. Di tengah perjalan kereta, kami bertiga kelaparan. Karena bekal tak memadai, kami berhenti terlebih dahulu di stasiun Manggarai untuk membeli rice box di Seven Eleven. Seperti yang diketahui bahwa kami bertiga itu sangat sederhana, kami membeli rice box yang termurah dan membeli satu slurpe untuk bertiga. Setelah kenyang, kami melanjutkan lagi perjalanan ke kota tua. Saat melintasi Monas sebenarnya kami ingin mengunjunginya namun karena aku juga sudah beberapa kali ke sana jadi lain kali saja kalau ada kesempatan.
Sesampainya di stasiun Jakarta kota. Kami memutuskan melihat-lihat. Sebelumnya, aku sudah pernah ke stasiun Jakarta kota. Tapi bagi Jessica dan Kayleen, ini adalah pertama kalinya. Stasiun Jakarta Kota yang dikenal juga dengan Beos bisa dibilang cukup besar jika dibandingkan stasiun Citayam ataupun Bojong Gede. Karena stasiun Jakarta Kota adalah tempat transit beberapa kereta menuju tempat lain. Setelah keluar dari kereta kita bisa menjumpai beberapa tempat makan yang cukup mahal, seperti Dunkin Donuts, Starbucks, Seven Eleven, Circle K, bahkan Indomaret sekalipun ada. Stasiunnya juga cukup bersih dan nyaman, disana tersedia vending machine yang memudahkan kita untuk membeli tiket, tidak hanya satu, ada banyak. Sangat memudahkan kami untuk membeli atau menukar tiket dengan uang jaminan.
Setelah kami bertiga keluar dari Stasiun Jakarta Kota, kami mencari jalan menuju Kota Tua. Kami berjalan kurang lebih lima ratus meter dari Stasiun Jakarta Kota hingga Kota Tua. Sesampainya di kawasan wisata Kota Tua, kami langsung melihat-lihat. Disana banyak sekali wisatawan, mulai dari dalam negeri hingga mancanegara. Banyak sekali turis mancanegara. Jangan lupakan pedagang kaki lima, terdapat banyak sekali pedagang kaki lima. Macam-macam barang yang dijual, mulai dari baju, gantungan kunci, perlengkapan atau aksesoris gadget dan benda lain yang mencirikan Kota Tua. Selain itu, banyak juga terdapat cafe atau tempat nongkrong. Salah satu yang terkenalnya ada café Batavia, sudah terkenal, didatangi oleh wisatawan manca Negara dan pastinya harga makanan yang dijajalkan pun tidak murah.
Kota Tua saat itu sangat ramai, banyak orang tertawa ria, mengambil kenangan dengan berfoto, hingga bermain  sepeda. Di kota tua banyak orang yang menyewakan sepeda jadul. Di kota tua juga banyak terdapat museum, seperti Museum BankIndonesia, Museum Seni Rupa & Keramik, Museum Fatahilah, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri yang tentu saja bisa menambah pengetahuan kita.
Melihat ramainya Kota Tua, aku dan kedua temanku tidak berlama-lama di Kota Tua. Kami hanya berfoto sedikit, karena baterai kamera kami juga habis. Lalu membeli minum dan membeli permen kapas. Kami menikmati permen kapas sambil mengobrol di tempat duduk di salah satu tempat di Kota Tua. Setelah permen kapas habis, kami memutuskan untuk pulang karena dilihat jam sudah menunjukan jam tiga sore.
Penulis : YVETTY ZILLA
Siswa kelas IX – 3
SMP AL AZHAR SYIFA BUDI CIBINONG
BOGOR – JAWA BARAT